Membangun Agribisnis Perdesaan

Oleh Rachmat Hendayana

Agribisnis perdesaan menjadi cita-cita pembangunan pertanian untuk mensejahterakan masyarakat, mengurangi populasi penduduk miskin, menciptakan kesempatan kerja dan mengurangi pengangguran.

Komitmen pemerintah untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran di perdesaan menuju kesejahteraan masyarakat secara konsisten terus digalakkan. Pemberian fasilitas bantuan modal usaha bagi petani dalam Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan atau PUAP merupakan wujud komitmen pemerintah tersebut.

Sasaran pemberian BLM PUAP ditujukan untuk mencapai empat tujuan: (1) mengurangi kemiskinan dan pengangguran, (2) meningkatkan kemampuan pelaku usaha agribisnis, pengurus Gapoktan, Penyuluh dan Penyelia Mitra Tani, (3) Memberdayakan kelembagaan petani dan ekonomi perdesaan, dan (4) meningkatkan fungsi kelembagaan ekonomi petani.

Pemberian fasilitas modal usaha ini tidak terbatas pada petani pemilik, akan tetapi mencakup petani penggarap, buruh tani dan rumah tangga tani yang dikoordinasikan oleh Gabungan Kelompok Tani yang kemudian dikenal Gapoktan.

Dengan pemberian modal melalui BLM PUAP, kemampuan petani menerapkan teknologi meningkat sehingga mendorong tercapainya peningkatan produksi usahatani. Dengan asumsi harga tetap, maka peningkatan produksi usahatani tersebut berarti petani memperoleh nilai tambah dari usahataninya sehingga memberikan sumbangan pada pendapatan rumah tangga.

Usaha petani mencakup berbagai subsektor: tanaman pangan, perkebunan, hortikultura dan peternakan. Teknologinya mencakup budidaya, panen, pasca panen, pengolahan hasil dan pemasaran.

Agribisnis perdesaan akan terjadi manakala petani anggota Gapoktan mampu menerapkan teknologi dalam menjalankan usahataninya, didukung kelembagaan yang solid dan yang tak kalah pentingnya adalah adanya mitra usaha. Kemitraan untuk mengembangkan agribisnis perdesaan penting dan krusial, karena disadari meskipun petani mendapatkan tambahan modal BLM PUAP akan tetapi belum cukup untuk membangun agribisnis. Petani memerlukan mitra untuk mengembangkan usaha agribisnis, di hulu maupun di hilir. Kemitraan di hulu terkait dengan penyediaan sarana produksi berupa benih, bibit, pupuk, pakan, pestisida, vaksin, dan lain sebagainya. Di hilir kemitraan diperlukan untuk menangani pengolahan dan pemasaran hasil.

Pertanyaanya, sejauhmanakah fasilitas modal BLM PUAP mendorong Agribisnis Perdesaan pada Gapoktan PUAP? Apakah modal itu efektif mempercepat adopsi inovasi pertanian? Bagaimanakah pengembangan Lembaga Keuangan Mikro –Agribisnis (LKM-A) pada usaha bersama agribisnis? Dan bagaimanakah upaya untuk membangun kemitraan agribisnis?

2 responses to “Membangun Agribisnis Perdesaan

  1. Sebenarnya keberadaan PMT di tiap Kabupaten/Kota diharapkan bisa memberikan pendampingan kepada gapoktan PUAP dalam pengembangan LKM-A, namun faktanya tidak semua PMT yang direkrut memiliki keahlian (keilmuan) dibidang keuangan mikro dan sebagian kecil PMT tidak fokus pada tugasnya (kewajibannya sesuai kontrak dan juknis PMT). Sebenarnya kalau kegiatan pendampingaannya betul-betul dilaksanakan dan dilakukan oleh orang yang memiliki ilmunya maka saya yakin dengan modal 100 juta hanya perlu waktu 1 tahun saja untuk dapat mengembangkan LKM-A di gapoktan PUAP. Apa boleh buat, rekrutmen PMT sarat dengan KKN dan pendekatan politik, tetapi saya masih berharap banyak kepada sebagian dari mereka yang masih setia mendampingi gapoktan PUAP di lokasinya.

  2. Ranah kita fasilitasi PMT agar mereka bekerja optimal mendampingi Gapoktan. Soal rekruitmennya, bukan bagian kita Pak. Pengabdian jangan terganggu oleh hal itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s