Kelemahan Proposal Pengkajian

Proposal ……   setiap awal tahun selalu dibuat, dievaluasi oleh reviewer.  Sejak BPTP   hadir sebagai insitusi pengkajian pada tahun 1994/1995 peneliti BPTP sudah biasa menulis proposal.

Logikanya cara atau teknik membuat proposal sudah biasa, sudah bisa.  Tetapi diantara kawan-kawan  masih saja ada yang menampilkannya asal-asalan.

Pembenarannya, terlalu banyak kegiatan, sibuk. Pekerjaan lalu belum selesai, sudah harus bikin proposal lagi………… itu pembelaannya.

Baiklah, tidak usah dipersoalkan. Memang faktanya begitu.

Saya hanya ingin sharing bagi kawan-kawan bagaimana trik membuat proposal agar “nendang” .

(1). Sebelum menulis proposal, tentukan dulu apa persoalan yang akan diajukan. Persoalan ini bukan persoalan peneliti, tetapi persoalan yang ada hubungannya dengan pembangunan pertanian di wilayah masing-masing.

Untuk mengetahui persoalan itu tentu harus jeli melihat dan mengamati keadaan. Tapi bedakan keadaan dengan masalah.  Keadaan adalah suatu fenomena  yaitu sesuatu yang bisa dilihat, diraba, dirasakan, diamati. Dengan kata lain keadaan ada “potret”  yang isinya bisa berupa potret kehidupan sosial ekonomi,  kondisi produksi pertanian, dll.

Persoalan adalah “gap” atau kesenjangan antara harapan dengan kondisi aktual. Kalau dalam produksi ditunjukkan oleh senjang produktivitas. Jika hasil penelitian di lokasi itu bisa menghasilkan potensi produktivitas padi 7 ton per hektar, misalnya. Tetapi fakta yang ada petani hanya menghasilkan produktivitas 5 ton per hektar, artinya disitu ada masalah. Terjadinya senjang produksi itu mengundang pertanyaan: Apakah varietasnya, penggunaan pupuknya, pengolahan tanahnya, atau apanya. …. Nah itulah yang semestinya dijadikan titik  awal untuk mengajukan persoalan. Tinggal bagaimana menyajikannya dan apa yang harus dipersoalkan, itu tergantung pada minat peneliti.

Peneliti sosek, akan melihat terjadinya gap produktivitas itu dari sisi karakteristik petani (misalnya: faktor-faktor apa yang mempengaruhi produktivitas padi di agroekosistem ….). Ahli agronomi akan mengajukan pertanyaan, misalnya  bagaimana respon pupuk terhadap pertumbuhan vegetaif dan generatif tanaman. Ahli tanah akan mempersoalkan gap produktivitas dari sisi kondisi lahan, dan seterusnya.

Untuk memudahkan alur pikir berikutnya, ada baiknya menampilkan permsalahan itu dengan kalimat tanya. Ingat waktu belajar metodologi penelitian untuk menyusun Skripsi waktu S1. Hal itu masih tetap relevan dalam praktek sebagai peneliti.

Misalnya: ………………… persoalannya adalah bagaimanakah respon petani terhadap pergantian varietas padi unggul baru?  dan seterusnya.

Berikutnya: ……. tunggu dalam episode berikutnya….

One response to “Kelemahan Proposal Pengkajian

  1. ditunggu next paper

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s