Cara Mengidentifikasi Permasalahan

Identifikasi permasalahan merupakan langkah awal yang penting dalam rangka memahami kondisi lingkungan sistem usaha tani di suatu wilayah. Hasil identifikasi akan menentukan keputusan penting dalam perencanaan kegiatan sistem usahatani. Keberhasilan identifikasi akan mendukung akurasi dan validasi data sehingga tidak salah dalam mengambil keputusan, sebaliknya kegagalan dalam identifikasi akan berdampak menurunkan kualitas data dan informasi sehingga kegiatan menjadi tidak efektif karena salah mengambil keputusan.
Metoda identifikasi untuk mengungkap persoalan petani ragamnya cukup banyak. Hal itu tergantung pada sasaran atau sumber data/informasi dan topik atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Berdasarkan sasaran, terdapat dua pendekatan yang dilakukan yakni kelompok (group) dan perseorangan (individual). Sedangkan berdasarkan topiknya bisa dilakukan secara tematik disesuaikan dengan tema yang akan digali.
Dalam hubungan dengan penggalian permasalahan di level petani sering dilakukan melalui pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) atau Pemahaman Pedesaan Secara Partisipatif (PPSP) dan Focus Group Discussion (FGD) atau Diskusi Kelompok Terfokus (DKT).
Kedua pendekatan tersebut telah banyak dilakukan para peneliti, sebagai langkah awal dari suatu penelitian yang merupakan salah satu dari implementasi metode penelitian. Meskipun demikian, dalam prakteknya seringkali dijumpai hal-hal yang kurang efektif. Faktanya banyak informasi yang terkumpul tetapi tidak mendukung persoalan yang akan digali dalam penelitian.
Kelemahannya sering terjadi di dalam proses.
Makalah ini bertujuan menyajikan uraian dari kedua pendekatan tersebut dalam prakteknya di lapangan.
Pengumpulan data pada sasaran yang pertama sering dilakukan melalui metoda Pemahaman Pedesaan Secara Partisipatif atau sering dikenal dengan sebutan PRA (Participatory Rural Appraisal), dan FGD (Focus Group Discussion) sedangkan pada sasaran individual dilakukan melalui Survei.
Landasan teori untuk pendekatan tersebut sudah banyak dikemukakan pakar di bidangnya, dan bahkan telah diimplementasikan dalam kegiatan pengkajian oleh para pengkaji di BPTP dan Balai Besar PTP. Meskipun demikian, di lapangan masih saja dijumpai kenyataan yang tidak sesuai harapan.
Hal itu ditandai oleh banyaknya pengkaji yang tidak dapat mempublikasikan hasil kajiannya karena yang bersangkutan ragu dan tidak percaya diri. Salah satu faktornya karena kelemahan dalam identifikasi data, sehingga mengakibatkan interpretasi yang kurang pas. Kesimpulan yang diperoleh sering tidak mencerminkan gambaran nyata di lapangan, bahkan subyektifitas pengkaji yang lebih menonjol. Akhirnya laporan hasil kajian tidak lebih dari hanya sekedar pertanggungjawaban administratif ke proyekan semata, dan menjadi penghuni rak perpustakaan saja.
Berkenaan dengan kondisi tersebut, uraian dalam tulisan ini lebih difokuskan pada tataran praktis ketimbang teoritis, karena asumsinya teori identifikasi telah dikuasai ketika awal menjadi pengkaji. Materi disusun berdasarkan pengalaman empiris melakukan identifikasi “farming system” di berbagai lokasi. Akurasi metoda ini telah teruji baik di hadapan para pakar di bidangnya dan diterima oleh pemberi tugas/pekerjaan.

PARTICIPATORY RURAL APPRAISAL (PRA)
Participatory rural appraisal (PRA) atau dikenal pemahaman pedesaan secara partisipatif merupakan suatu pendekatan yang biasa dilakukan untuk mengumpulkan data.
Tujuan dilaksanakannya PRA:
1. Mengidentifikasi potensi, kendala dan masalah serta peluang pengembangan SUT
2. Mengetahui penguasaan asset produktif dan faktor pendukungnya
3. Mengetahui faktor penghambat usahatani dan analisis pemecahannya
4. Merancang pola usahatani rumah tangga petani sesuai dengan sumberdaya yang dikuasai

Keluaran yang diharapkan dari kegiatan PRA
1. Karakterisasi potensi, kendala dan masalah serta peluang pengembangan SUT
2. Diketahuinya penguasaan asset produktif dan faktor pendukungnya
3. Diketahuinya faktor penghambat usahatani dan analisis pemecahannya
4. Pola usahatani rumah tangga petani sesuai dengan sumberdaya yang dikuasai sebagai bahan untuk penyusunan program penelitian dan pengkajian serta pengembangan lahan marginal.

Prinsip-prinsip:
1) Analisis keadaan dan penggunaan sumberdaya
2) Memahami perilaku, sikap, persepsi , tujuan, dan pembuatan keputusan oleh petani
3) Petani diberi peran kunci
4) Teknologi dibangun di atas system pengetahuan petani
5) Menjamin keberlanjutan jangka panjang
6) Interdisiplin

Langkah penelitian partisipatif:
1) Tentukan lokasi
2) Tentukan kelompok sasaran
3) Identifikasi masalah
4) Catat pengetahuan asli yang relevan
5) Rencanakan forum untuk pengembangan teknologi partisipatif
6) Buat agenda penelitian
7) Lakukan penelitian partisipatif
8) Evaluasi ilihan teknologi
9) Sebarkan pilihan-pilihan teknologi

Dalam satu kabupaten di tetapkan (misalnya 3 desa) secara purposive sesuai dengan tujuan yang mau dicapai.
 Dari setiap desa dipilih satu kelompok tani yang mewakili agroekosistem dominan (lahan kering atau sawah tadah hujan)
 Kumpulkan 10 – 20 orang petani (bapak dan ibu tani) dalam satu kelompok yang bisa mewakili agroekosistem dominan, sebagai responden.
 Tim PRA untuk setiap lokasi minimal terdiri dari 3 orang peneliti/penyuluh dari berbagai disiplin ilmu ditambah beberapa orang staf dari daerah setempat.
 Sebelum penggalian materi, terlebih dahulu dilakukan transect untuk mengetahui potensi sumberdaya pertanian di desa yang bersangkutan, sehingga diskusi menjadi terfokus.
 Materi atau variable yang digali telah disiapkan oleh tim pengkaji berupa pointer-pointer
 Sebelum diskusi berakhir, dibuat resume kesepakatan dan dikemukakan lagi kepada peserta untuk konfirmasi/klarifikasi
 Kesepakatan ini menjadi bahan laporan hasil PRA.
 Setiap Tim PRA menentukan Koordinator dan Sekretarisnya. Koordinator dan Sekrertaris TIM PRA bertanggungjawab mengkoordinasikan penulisan laporan dan presentasi hasil PRA
 Draft laporan hasil PRA ditulis di lokasi dan dibahas bersama aparat setempat sebelum Tim PRA kembali.
Data/Informasi yang Dikumpulkan
o Biofisik
o Sosial ekonomi
o Sumberdaya rumah tangga
o Kelembagaan pendukung
o Assesibilitas
o Penguasaan sumberdaya pertanian
o Penggunaan sumberdaya pertanian
o Teknologi usahatani yang dilakukan petani
o Keragaan usahatani
o Keinginan petani terhadap suatu teknologi baru
o Keinginan petani terhadap media diseminasi pertanian
Analisis Data
 Data yang telah dikumpulkan di analisis secara diskriptif dan setiap sub sektor pertanian yang dilaksanakan petani dianalisis secara finansial

Karakteristik dan Deliniasi Lokasi
Biofisik (data sekunder dari kantor desa/kecamatan)
1. Luas potensi lahan pertanian di desa menurut agroekosistem
2. Keragaan masing-masing agroekosistem meliputi :
a. Topografi (ketinggian tempat, berlereng/datar)
b. Iklim (curah hujan, tipe iklim, kelembaban, suhu, dll)
c. Jenis tanah dan kesuburannya
d. Cekaman lingkungan yang pernah dialami : cekaman abiotik (erosi, banjir, kekeringan, kebakaran dll) dan biotik (hama, penyakit tanaman)
3. Sejarah desa (meliputi perkembangan dan perubahan yang terjadi dari dulu hingga sekarang. Parameternya terdiri dari : penguasaan lahan/ternak/asset produktif pertanian lainnya; kecukupan pangan; produktivitas usahatani; sarana pendukung lainnya seperti pertanian, sosial ekonomi dan kesehatan serta indikatror lainnya). Dengan demikian dapat disimpulkan trend usahatani di desa itu. Apakah usahatani di desa itu cenderung tambah meningkat, tetap atau mulai menurun).
Sosial Ekonomi meliputi (data sekunder dalam monografi desa/kecamatan)

1. Demografi
a. Jumlah penduduk menurut umur dan jenis kelamin (persentase usia lanjut, usia produktif, usia muda)
b. Jumlah penduduk usia produktif (berdasarkan jenis pekerjaan, dan jenis kelamin, persentase yang bekerja di luar desa, pekerjaan dominan yang dikerjakan)
c. Jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan
d. Ketersediaan dan Mobilitas Tenaga Kerja (On farm, off farm dan non farm) selama satu tahun terakhir
2. Ketersediaan sumber air bersih dan MCK
3. Keadaan Penerangan
4. Kondisi rumah termasuk peralatannya (atap, dinding, lantai)
5. Ketersediaan lembaga sosial
Sumber Daya Rumah Tangga (Lihat instrumen)
1, Rata-rata pemilikan lahan sesuai jenis lahan per rumah tangga (RT)
2, Potensi tenaga kerja keluarga produktif (laki/perempuan) per RT
3, Kemampuan modal tunai per musim atau tahun yang dimiliki per RT
4, Sarana dan atau alat pertanian yang dimiliki
Kelembagaan pendukung meliputi (lihat instrumen)
1. Sarana perkreditan (jenis, formal, informal, mudah/sulit mendapatkannya, tingkat bunga yang umum)
2. Sarana pasar input dan output (letak pasar, tersedia/tidak, jumlah pembeli output/penjual input)
3. Kelompoktani (kelas kelompok tani dan aktifitasnya)
4. Penyuluhan (jumlah penyuluh, institusi penyuluhan dan intensitas penyuluhan, materi penyuluhan)
Assessibilitas meliputi (data sekunder dalam monografi desa/kec)
1. Kondisi jaringan jalan di desa (menurut tipe dan kualitas)
2. Sarana dan prasarana transportasi (jenis transportasi dan frekuensinya)
3. Jarak desa dengan pusat perekonomian terdekat
4. Jaringan komunikasi (jenis dan jumlah, termasuk televisi, radio, Koran, dsb )
Penguasaan dan Penggunaan Sumberdaya Pertanian
Penguasaan Sumberdaya Pertanian (Data sekunder dari monografi desa)

Dibahas berdasarkan Subsektor ,mencakup aspek-aspek
1. Kepemilikan (luas, status kepemilikan)
2. Komoditas yang dikelola (jenis dan jumlah)
Penggunaan Sumberdaya Pertanian (Lihat instrumen)
1. Kondisi sumberdaya lahan, dilihat dari tingkat kesuburannya
2. Kondisi SDM Petani (dalam mengelola usahataninya)
3. Pola tanam/usahatani pada berbagai tipologi/ agroekosistem lahan yang ada di desa
4. Sistem tanam
5. Cabang usahatani yang diusahakan pada berbagai subsektor
a. Subsektor Tanaman Pangan (MH, MK I, MK II)
b. Subsektor Perkebunan (MH, MK I, MK II)
c. Subsektor Hortikultura (MH, MK I, MK II)
d. Subsektor Peternakan (jenis ternak)
6. Usaha lain (off farm dan non farm)

Identifikasi Teknologi dan Keragaan Usahatani
Teknologi Usahatani (Lihat instrumen)
Diungkap berdasarkan subsektor , meliputi aspek-aspek:
1. Persiapan lahan/pengolahan lahan
2. Input (bibit, pupuk, pestisida, dll  jenis, jumlah, kualitas), distribusi tenaga kerja per aktivitas
3. Penggunaan alat
4. Output usahatani
- Tanaman: produksi per hektar,
- Ternak: sesuaikan dengan jenis ternak (misalnya pertambahan berat badan, produksi susu, telor, dll)
5. Pasca panen (ketersediaan, fasilitas, dan alat)
Keragaan Usahatani (Lihat instrumen)
1. Identifikasi keragaan sistem usahatani tanaman dan ternak (jenis, jumlah dan sistem pengelolaan) yang diusahakan (CI) secara kualitatif (meliputi penggunaan sarana produksi baik fisik maupun finansial) seperti bibit, pupuk, pestisida, herbisida, dll.
2. Jumlah tenaga kerja (dalam keluarga dan luar keluarga) yang digunakan per aktivitas mulai dari persiapan, pengolahan tanah, tanam, pupuk , siang, penyemprotan, panen, dan prosessing
3. Identifikasi keragaan pemasaran hasil pertanian (tanaman dan ternak)

Keinginan Petani terhadap suatu teknologi baru (buat skala prioritas) —— lihat instrumen

1. Tingkat kemudahan
2. Efisiensi finansial
3. Efisiensi input fisik
4. Efisiensi tenaga kerja
5. Sesuai permintaan pasar
6. Efektitivas dalam peningkatan hasil (rasa, harga, penampilan, dll)
7. Mengurangi kehilangan hasil

Keinginan Petani terhadap media diseminasi pertanian (lihat instrumen)

1. Tercetak (brosur, leaflet, poster, koran)
2. Demonstrasi plot/area
3. Elektronis (siaran radio/televisi, CD-ROM, video)
4. Personal (konsultasi)
5. Pelatihan

Permasalahan Petani (lihat instrumen)
Biofisik
1. Infra struktur di desa
2. Tingkat kesuburaan lahan
3. Cekaman biotik (hama, penyakit, gulma)
4. Cekaman abiotik (kekeringan, banjir, erosi, kebakaran dsb)
Sosek
1. Input produksi (ketersediaan, kualitas, harga beli)
2. Pemasaran hasil (harga jual, tingkat kemudahan
Kelembagaan
1. Pelayanan permodalan/Perkreditan
2. Pasar input dan pasar output
3. Kelompoktani
4. Penyuluhan
Assessibilitas
1. Kondisi jaringan jalan di desa
2. Sarana dan prasarana transportasi
3. Jaringan komunikasi

FOCUS GROP DISCUSSIONS (FGD)
Pengertian:
 Focus group discussion (FGD) atau dikenal sebagai diskusi kelompok terarah merupakan suatu forum diskusi yang sifatnya informal (tidak protokoler) yang mengangkat suatu isu atau topik tertentu.
Tahapan:
 Pembukaan
 Membina keakraban dan pembauran dengan peserta
 Diskusi /brainstorming
 Pengambilan keputusan/perumusan hasil diskusi
 Penyusunan rencana tindak lanjut
 Penutupan
Level FGD:
 FGD tidak menjadi dominasi kelompok tertentu, melainkan dapat dilakukan di berbagai level, misalnya di level elit penguasa, birokrat maupun di level petani.
Partisipan/peserta diskusi:
 Anggota diskusi dirancang tidak terlalu sedikit, tetapi juga tidak terlalu banyak. Idealnya diskusi melibatkan antara 8 -12 orang anggota, yang memiliki disiplin ilmu beragam.
 Dapat mewakili berbagai utusan.
Kenapa jumlahnya jangan kurang dari 8 orang, tiada lain terkait dengan keterwakilan (representatif), dan kenapa jangan lebih dari 12 orang alasannya untuk menghindari adanya anggota yang tidak efektif. Dengan jumlah tersebut diharapkan semua partisipan dapat berpartisipasi aktif memberikan pendapata atau saran dan tanggapan terhadap isu persoalan yang diangkat.
Proses FGD diawali dengan “brain strorming”, mengundang semua partisipan mengemukakan ide/gagasan/tanggapan terhadap isuyang dibahas.Dalam prosesini tidakada pembatasan bagi seseoranguntuk berpendapat. Semua pendapat di catat oleh notulis di papan tulis atau pada flip chart atau pita singkap, yang terbaca oleh semua partisipan.
Format tempat duduk diupayakan diatur sedemikian rupa sehingga semua bisa bertatap muka. Hindari format tempat duduk yang formal seperti di ruang kelas belajar. Tempat duduk diciptakan se santai mungkin, kalau bisa dalam format “kave” , duduk berkeliling dalam meja bundar sehingga setiap orang bisa menatap partisipan klainnya yang sedang berbicara. Posisi partisipan dianggap setara sehingga tidak terjadi gap atau kesenjangan antara fasilitasor (pemandu acara dengan anggot lainnya setara).
Petugas yang berperan sebagai pemandu adalah yang memiliki gagasan/ide pemikiran yang akan didiskusikan sehingga jalannya diskusi diarahkan sesuai target yang ingin dicapai.
Materi pembahasan terdiri dari 5 Sub Bab meliputi
o Karakteristik dan deliniasi lokasi,
o Penguasaan dan penggunaan sumberdaya pertanian,
o Identifikasi teknologi dan permodalan petani,
o Permasalahan Petani
o Inovasi teknologi untuk peningkatan kinerja usahatani petani sesuai sumberdaya petani

Outline Laporan Hasil PRA dan FGD(contoh):

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Tujuan
1.3. Output

II. METODOLOGI
1. Pendekatan
2. Data dan Sumber Data
3. Pengumpulan Data
4. Lokasi
5. Analisis Data

III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Karakteristik dan Deliniasi Wilayah
3.2. Penguasaan dan Penggunaan Sumberdaya
3.3. Identifikasi Teknologi dan Permodalan Petani
3.4. Permasalahan Petani
IV. ALTERNATIF INOVASI TEKNOLOGI
V. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKSANAAN
5.1. Kesimpulan
5.2. Implikasi Kebijaksanaan

VI. DAFTAR PUSTAKA

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s